APA ITU IKPAST

IKATAN KELUARGA PEDULI SERAMPAS SUNGAI TENANG ( IKPAST )
merupakan organisasi massa (ormas) resmi yang menaungi pemuda-pemudI asal tiga kecamatan di Kabupaten Merangin, yakni Kec Jangkat, Sungai Tenang dan sebagian Lembah Masurai. Ketiga kecamatan ini sebelumnya merupakan wilayah eks marga Serampas Sungai Tenang yang dikenal sebagai daerah paling terisolir di Kabupaten Merangin.

Jumat, 20 Mei 2011

Budaya Westernisasi mangancam budaya bangsa kita

Kalau lagi bingung, saya sering mengkategorikan manusia sebagai homo bingungensis, makhluk yamg membingungkan. Misalnya; ketika kondisi normal atau stabil, sering mengepalkan tangan, atau bahasa gaulnya buntut kasiran alias pelit medit melilit-lilit. Jangankan untuk merogoh kocek, membantu sesama, untuk tersenyum pun kkir. Kalaupun menyumbang, selalu saja ada hitungan terselubung, keinginan yang menyusup atau penuh kepentingan. Malah, stabilitas itu dimanfaatkan; menggunting dalam lipatan, sikut sana sikut sini, atau kalau perlu injak kepala orang lain untuk dapat mendaki tangga kehidupan. Lebih parahnya lagi ada sebagian pihak yang mengatas namakan stabilitas untuk menghalalkan peperangan yang hanya membuat fitrah kemanusiaan kita terbaring koma.

Bingungnya lagi, ketika kondisi kritis, atau dihantam musibah dahsyat, baru saling Bantu, seribu tangan menyingsingkan lengan, ringan sama dipikul berat sama dipanggul.

Ketika sebuah bencana besar melanda negeri ini, disebuah tayangan televisi, seorang anak rela mendermakan CELENGAN YANG SEPENUHNYA BERISI UANG RECEHAN, bukan nominalnya, tapi nilai dari kesadaran terdalam (the ultimate consciousness) yang dilecutkan anak itu, sungguh sangat menggedor gunung es kesadaran komunal kita sebagai sebuah bangsa yang telah membeku. Setiap orang yang menyaksikannya pasti akan meleleh. Betapa bangga bahwa dipersada ini KETULUSAN, GOTONG ROYONG, TEPO SELIRO, dan seabreg keagungan nilai ketimuran belum sepenuhnya digondol atau dirasuki "JIN WESTERNISASI"

Tapi, saya juga merasa perih merintih.bahwa segunung musibah yang melanda, bahkan sanggup menjadi dendang bagi sebagian orang untuk menari di atas luka para korban bencana; jual beli anak2 korban bencana, bahan makanan yang telah kadaluarsa dan pembukaan “posko tuyul” atau “rekening siluman” atas nama korban bencana yang seribu persen berbau kepentingan pribadi, NA’UDZUBILLAH...mudah-mudahan oleh ALLAH, mereka diberi kesadaran sebelum IZRA’IL datang menjenguk.

Saya bingung, kenapa gelombang solidaritas dan keagungan nilai ketimuran tak serta merta tumbuh dan mekar ketika sejarah dengan segala realitasnya berjalan normal dan stabil? kenapa harus menunggu bencana untuk memantik nyala nilai – nilai kemanusiaan kita?
Apakah harus begitu cara merangsang kodrat alam kita sebagai manusia? sebagai khalifah fil ardl, apakah allah harus selalu mempertontonkan telunjuk-Nya untuk menyentil kesadaran kita? “Telunjuk” yang menyentil-nyentilkan teguran, kepasrahan, sekaligus keterpaksaan untuk berlutut dan memaknai keperkasaan-Nya. “Telunjuk” yang juga membawa lentera, hidayah, atau menghadirkan paksa ruang intropeksi bagi kita kita untuk merasuk, membungkuk, tunduk mengikuti aturan main-Nya?
Kenapa juga patriotisme-heroik, wahyu dan sejarah kenabian selalu lahir ketika kritis telah mencederai ubun-ubun peradaban? bukan lahir saat lagkah sejarah melenggang tenang? kenapa harus seperti itu? kenapa stabilitas kadang menjadi candu. Memandulkan ritme hidup dan menjumudkan.

Apakah kita membutuhkan perahu nabi Nuh untuk berlayar keluar dari system yang carut marut ini?
Ataukah harus kita hadirkan nabi Ibrahim dengan kampak ditangan yang siap menghancurkan system yang sudah jadi berhala modern ini,
Lantas kita pinjam tongkat nabi Musa untuk membelah skema interaksi social yang sudah kedodoran ini menuju sebuah dimensi baru kategorisasi hubungan social yangtidak campur aduk.

Sebetulnya siapa yang salah??? Kalau dirunut, seandainya ALLAH mengonsep takdir lain, tidak memulai dengan “drama ketuhanan” saat Adam dan Hawa disurga memakan Kuldi, mungkin manusia, dan kemanusiaan secara umum tak perlu kerepotan seperti ini, Aceh tak perlu menangis serta berdarah2 oleh intrik politik dan disempurnakan lukanyaoleh tsunami. Tidak perlu ada tragedi 12 september yang meruntuhkan gedung kembar World Trade Center (WTC) sebagai symbol kedigjayaan ekonomi AS yang melahirkan invasi atau “kolonialisasi baru” ala PAMAN SAM yang memposisikan terorisme sebagai kambing hitam. Atau SUMANTO tidak perlu melahap daging nenek2 biar jadi sakti dan meraup mimpi. Dan banyak lagi benang kusut problem social yang makin membengkak.

Kita tidak serta merta menyalahkan Adam dan Hawa yang memakan buah larangan itu. Sehingga kita belum bisa untuk kongkow-kongkow atau adem ayem bercengkrama disurga. Belum saatnya menikmati hidup tanpa perang dan percintaan buta, karena kedua halini yang paling sering melanggar aturan. Dan kita masih terus berjuang mengurai benang kusut relasi sosial yang semakin kacau oleh kejahatan dan kebodohan, tapi tak pernah disadari sebagai kejahatan dan kebodohan.
Kita memang haru terus berjuang, sebab perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, demikian WS Rendra membakar kita.
Tapi ALLAH lebih membakar algi dengan Firmannya dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabuut, 29;69:
”Dan orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang dijalan kami, akan kami hamparkan petunjuk dalam setiap perjalanan perjuangannya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersam orang yang berbuat baik”.

1 komentar: